Rabu, 29 Oktober 2014

Ketika Rindu Menyapa (resensi novel RINDU)

“...Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Jujur, novel “RINDU” adalah novel pertama bang Tere liye yang saya baca sampai halaman terakhir! Novel ini juga jadi novel kedua *sebelumnya pernah meresensi novel untuk tugas bahasa Indonesia zaman SMA dulu :p* yang saya resensi.
Pertama baca kayaknya nih novel bakal ngebetein, tapi pas udah baca dari halaman satu ke halaman berikutnya, berikutnya, dan berikutnya, ternyata Subhanallaah.. seru bingit! :D
Novel ini menceritakan tentang perjalanan sebuah kapal bernama “BLITAR HOLLAND” yang mengangkut jamaah haji menuju Jeddah. Pertama kali mengangkut penumpang di pelabuhan Makassar dan berakhir di pelabuhan Jeddah (transit Aden).
Penulis menceritakan secara detail tentang si kapal BLITAR HOLLAND ini.

Kapal itu memiliki panjang 136 meter, dengan lebar 16 meter. Menara uapnya yang hitam legam menjulang tinggi. (hal. 3)
Kapal itu dibuat di Eropa tahun 1923. Dimiliki oleh salah satu raksasa perusahaan logistik dan transportasi besar asal Belanda, Koninklijke Rotterdam. (hal. 3)

Buat saya yang buta banget soal kapal laut, mau itu kapal nelayan, kapal kayu, kapal uap, atau kapal phinisi, novel ini setidaknya memberikan pandangan baru bagi saya tentang sebuah kapal laut. “oh ternyata kapal laut seperti itu yaa..”, gumam saya terkagum-kagum. :D
Banyak tokoh yang dimunculkan penulis dalam novel ini, namun hanya ada beberapa tokoh saja yang frekuensi kemunculannya lebih sering dibanding dengan tokoh yang lain. Diantaranya yaitu:
  1. Tuan Ahmad Karaeng (disebut juga dengan Gurutta yang artinya guru kami), seorang kakek tua berusia hampir tujuh puluh lima tahun (hal. 15). Ia seorang imam Masjid Katangka, Makassar. (hal. 19)
  2. Daeng Andipati, ayah dari Anna dan Elsa. Berwibawa, juga berpendidikan tinggi. Pernah bersekolah di Rotterdam, Belanda.
  3.  Anna dan Elsa, gadis berusia sembilan dan lima belas tahun. Anna digambarkan sebagai gadis kecil yang menggemaskan juga cerdas. Begitu pun Elsa, ia digambarkan sebagai gadis yang cerdas dan suka menggoda adiknya.
  4. Kapten Phillips, seorang nakhoda kapal, bertubuh tinggi besar, dan memiliki wajah penuh wibawa.
  5. Ambo uleng, seorang pelaut yang berkulit hitam dan bertubuh kekar.
  6. Sergeant Lucas, seorang tentara Belanda yang lebih sering digambarkan berwajah masam dan galak ._.
  7. Mbah Kakung dan Mbah Putri, pasangan suami istri paling sepuh dan paling romantis di kapal Blitar Holland :’)
  8. Bonda Upe dan suaminya, Enlai, pasangan suami istri Cina Islam. Bonda upe sebagai pengajar mengaji anak-anak setiap ba’da ashar. (Bonda= bibi)
  9. Ruben si boatswain, teman sekabin Ambo uleng yang baik hati dan juga suka meledek Ambo uleng :p
  10. Chef Lars, koki handal bertubuh besar yang memasak untuk para penumpang kapal.*Menu yang paling menggoda saya saat membaca novel ini yaitu sup iga! Malem-malem lagi baca terus ada kata ‘sup iga’ itu bener-bener bikin ngiler! :p

            Dari penampilan luar, novel ini memiliki cover yang unik. Tidak banyak gambar atau tulisan yang tertera di sana. Hanya ada judul dan nama penulis di cover depan, juga sinopsis novel di cover belakangnya. So simple but elegant! :)
Bahasa yang digunakan penulis benar-benar indah! Puitis, romantis, dan melankolis *apasih :p
Novel “Rindu” mengandung banyak nasihat, kata-kata motivasi, bahkan pencerahan buat hidup ini *terutama hidup saya, hehe :D
Selain itu, novel ini juga menyajikan ciri khas yang berbeda dari novel-novel romance yang pernah saya baca, yaitu tentang konsistensi penulis dalam membawa sense Islami di dalamnya. Jujur nih, jaraaang banget saya baca novel yang isinya membahas tentang waktu sholat. Sholat subuh, sholat zuhur, sholat ashar, sholat maghrib, dan juga sholat Isya. Subhanallaah!
Alur yang digunakan dalam novel ini, alur maju. Meski latar belakang waktu yang digunakan penulis adalah zaman pra proklamasi Indonesia.
            Baca novel ini, pelajaran sejarahnya dapet, pelajaran geografinya dapet, pelajaran bahasa Belanda nya dapet, pelajaran agamanya dapet (banget!), pelajaran kehidupannya dapet (banget banget!) :D
Menurut saya novel ini almost perfect! Hanya saja ada kejanggalan di beberapa bagian. Seperti pada hal. 181:

“Siapa namamu tadi, Nak? Asta?"
“Anna, Mbah Putri.” Anna berseru
“oh, Andra.” Mbah kakung mengangguk-angguk

*Perasaan si Anna nyebutnya ‘Mbah Putri’, tapi kenapa yang ngerespon ‘Mbah Kakung’? Salah ketikkah atau memang begitu ceritanya?

Juga pada hal. 228:
“Kenapa ada penumpang memakai dokumen palsu, Pa?
Apakah mereka jahat?” Anna bertanya.
“Tidak semua berniat jahat, Elsa.” Daeng Andipati menggeleng,

*Perasaan yang nanya si Anna, tapi kenapa Daeng Andipati jawabnya Elsa? Lagi-lagi aku kebingungan ._.

Oh iya, novel ini juga disisipi oleh sedikit guyonan yang membuat saya ngakak! Lagi serius baca eh ada percakapan ini..
“Siapa namamu tadi, Nak? Asta?
“Anna, Mbah Putri.” Anna berseru
“oh, Andra.” Mbah kakung mengangguk-angguk

*pendengaran mbah kakung ini tidak begitu baik, kawan :”)

“Nah, yang satu ini siapa namanya?”
“Elsa, mbah kakung.” Elsa berseru kencang.
“Oh, Entah.” Mbah kakung seolah yakin sekali dengan pendengarannya,
“Namamu kenapa aneh begitu, Nak? Entah?”

*Sampai akhirnya Anna kalo meledek kakaknya, Elsa dengan sebutan ka Entah. Haha :p

Meski pendengaran mbah Kakung agak terganggu, tapi beliau romantis banget loh sama istrinya.

“Pendengaranku memang sudah berkurang, Nak.
Mataku sudah tidak awas lagi. Tapi kami akan naik haji bersama. Menatap Ka’bah bersama. Itu akan kami lakukan sebelum maut menjemput. Bukti cinta kami yang besar.” Mbah Kakung menggenggam jemari mbah Putri, mengakhiri ceritanya. (hal. 208)

Perjalanan haji ini juga membawa pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya ditemui jawabannya di atas kapal ini juga. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berasal dari Bonda Upe, Daeng Andipati, Mbah Kakung, Ambo Uleng, dan ... (rahasia :p kalo mau tau, baca dulu novelnya ya, huehehe)
Berikut ini beberapa cuplikan pertanyaan yang jawabannya ada di novel Rindu karya Tere Liye terbitan Republika! ^^

“Aku seorang cabo, Gurutta. Apakah Allah... apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak menginjak Tanah Suci?Atau, cambuk menghantam punggungku, lututku terhujam ke bumi..... apakah Allah akan menerimaku? Atau, mengabaikan kenangan itu terus menghujam kepalaku. Membuatku bermimpi buruk setiap malam. Membuatku malu bertemu dengan siapa pun.” (hal. 310)

“Sejak melihat Gurutta di masjid kapal, aku sudah ingin bertanya.
Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua?...” (hal. 371)

“Kenapa harus terjadi sekarang, Gurutta?
Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenapa harus ada di atas lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil Haram. Kenapa harus sekarang?” (hal. 469)

Sebagai penutup, saya mau mengutip kalimat indah nan so sweet pada halaman 492 dari novel ini.
                                            “Cinta sejati adalah melepaskan.
Lepaskanlah.
Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita.
Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.
Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua,
itu semua ada penulisnya.
Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah.
Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi.
Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa
kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.”

novel RINDU

Identitas Buku

Judul Novel: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Cetakan: I, Oktober 2014
Tebal: 544 Halaman
Harga: Rp. 69.000 (Toko Buku Gramedia)

Sekian resensi novel kali ini. Semoga ada 'sesuatu' yang bermanfaat untuk readers semuaa!
Selamat Membaca ^^